rss
0

#Bacarita Refleksi 13 Tahun Tragedi Ambon

Refleksi 13 Tahun tragedi ambon

Gerakan #Badati Refleksi 13 Tahun tragedi ambon

Sore itu, 14 Januari 2012, di Café Champion, cafe yang belakangan menjadi tempat favorit komunitas-komunitas di Ambon untuk berkumpul ini mulai riuh dengan kedatangan satu satu kawan Arumbai dan rekan rekan lintas komunitas lainnya seperti dari Gunung Mimpi, Kalesang Halong Mardika, Ambon Bergerak, para mahasiswa yang kesemuanya adalah para provokator perdamaian. 20 hingga 30 pemuda berkumpul dan saling memberi makna atas tragedy pahit itu.

Agenda Arumbai Bacarita yang digadang gadang sejak 2011 ini namun sering gagal dilaksankan, akhirnya di awal tahun 2012 ini dapat terlaksana juga. Tema yang diangkat pada Arumbai Bacarita edisi perdana ini adalah Refleksi 13 Tahun Tragedi Kemanusiaan Maluku. Bukan tanpa alasan Arumbai menggelar diskusi ini karena tepat 13 tahun lalu, ada luka yang ditoreh di bumi berjuluk Negeri Raja Raja.
Dengan moderator oleh Bung Wessly, Bacarita diawali dengan refleksi dari Abang Abidin Wakanno, seorang pelaku sejarah dalam masa masa awal tragedi hingga pemulihan melalui Lembaga Lintas Iman yang dibentuknya. Abang Abi, begitu ia biasa dipanggil, membuka cerita dengan mengatakan bahwa banyak orang harus belajar perdamaian di Maluku. Maluku telah menjadi laboratorium pluralisme dunia. Sudah banyak disertasi yang muncul dari pengalaman berkonflik di Maluku meski sayangnya karya karya itu belum menyentuh Maluku secara lebih riil.

Pasca konflik 99, nilai nilai sipil di Maluku bergeser menjadi lebih keras karena tidak ada pemulihan psikologis masyarakat. Kota berubah menjadi kota militerisme dimana pos pos tentara bisa ditemui di sepanjang jalan kota. Namun Abang Abi tetap mengakui bahwa Konflik lantas menjadi sebuah kekuatan untuk membangun Maluku menjadi lebih beradab. Beliau membagi fase konflik menjadi 4 fase yaitu : 1) Fase sebelum konflik dimana bisa dikatakan di fase ini masyarakat Maluku hidup dalam kerukunan semu, tidak pernah ada dialog sesungguhnya. 2) Fase masa konflik : Semua terlibat dalam konflik. Suka tidak suka, mau tidak mau, setiap orang harus mengambil bagian dalam konflik dalam berbagai bentuk. Rekonsiliasi dan damai adalah kata yang haram dikatakan. 3) Fase berhenti berkonflik dimana mulai dibangun membangun negosiasi, dan mediasi, tapi belum perjumpaan. 4) Fase aman atau yang lebih disebut fase bulan madu dimana Islam dan Kristen berlomba lomba melakukan rekonsiliasi.  : Islam Kristen bulan madu. Setiap orang menggunakan kata rekonsiliasi untuk kepentingan masing masing. Setiap fase menunjukkan bahwa Masyarakat Maluku berproses untuk dapat keluar dari lingkaran setan bernama konflik ini.

Setelah uraian menarik dari Abang Abi, Bung Wessly mempersilahkan rekan rekan untuk mulai berbagi. Mendapat sundulan tersebut, cerita cerita pun mulai mengalir. Satu satu bercerita tentang kenangan masa berkonflik hingga petikan petikan hikmah yang kemudian diambil dan menjadi nilai baru yang dijalani saat ini.  Berikut beberapa petikan kisahnya :

Saya trauma terhadap konflik, tak hanya besar, perkelahian tetangga pun bisa membuat saya sangat takut” | Winda, Mhs IAIN
Setiap konflik, kami sering dilindungi oleh guru2 yg beragama kristen, jika ada bunyi tembakan, kami langsung di suruh pulang” | Munawir, pemuda Islam di lingkungan kristen
“99 bulan desember, saya mengungsi dari namlea, dan setiap hari pada saat ada adzan, saya langsung matikan tipi, karena ga suka” |Wessly, pemuda kristen
Saya pernah Buang Mayat orang, kami anak2 kecil yang disuruh buang mayat2 itu ke navigasi, Saya masuk dalam pasukan bensin, pasukan yg bertugas membakar, bersama teman2 yg lain” | Borut, saat itu masih kls 3 SD

Cerita masih berlangsung ketika Bung Justus Pattipawae, Direktur Institut Tifa Damai Maluku, memasuki kafe Champion. Mengambil tempat di samping Abang Abi, beliau yang akrab disapa dengan panggilan Bu Yus ini ikut berbagi bersama kami. Dengan gaya bicaranya yang khas dan berapi api, bu Yus menceritakan kisah beliau dengan rekan rekan saat ikut melakukan rekonsiliasi bersama para Raja di Majelis Latupati Maluku. Tuturan beliau dimulai  dengan pesan bahwa membangun Maluku itu harus murni dari hati nurani, panggilan kemanusiaan, dan bukan kepentingan. Refleksi beliau menyadarkan bahwa selama ini pergumulan perdamaian masih di level elit tanpa menyentuh akar. Sementara konflik sering bermula dari hal hal kecil dan dilakukan oleh masyarakat yang seringnya tak tersentuh aroma pembangunan atau apalah namanya yang ditawarkan pemerintah dan Negara.

Ruang-ruang interaksi sosial dalam masyarakat antar agama seperti tertutup sampai sekarang ini di Ambon. Hal ini menjadikan masyarakat pun berpikir dalam ruang-ruang interaksi mereka sendiri, tidak ada interaksi bersama antar agama (Yustus Pattipawae)

Tak bisa dipungkiri bahwa, Maluku tidak hanya kehilangan generasi dalam arti ribuan orang terbaik Maluku musnah oleh konflik 99 itu, namun lebih dr itu. Serota cerota seperti Nene Luhu, Batu Badaong, sudah hilang dan terganti menjadi cerita tentang konflik. Yang diwariskan oleh orang Maluku kepada anak cucu ada cerita konflik, siapa membunuh siapa, siapa membajar rumah siapa dan hal hal miris lainnya. Tak ada cerita sedikitpun tentang “Perdamaian”.  Begitupun dengan tulisan, semua orang menulis tentang konflik, jarang sekali yang menulis tentang perdamaian meski bagian bagian terkecil. Abang Abi dan Bu Yus  lantas memprovokasi rekan rekan untuk menulis agar sejarah yang selama ini berbasis penguasa, menjadi sejarah yang ditulis oleh rakyat. dan sepertinya projek menulis cerita perdamaian setelah ini akan bergulir untuk menularkan perdamaian ke Maluku.

Andai saja Yesus dan Muhammad masih hidup mungkin mereka sementara minom kopi bersama kita saat ini (Abidin Wakanno)

Diskusi masih berlanjut hingga menjelang maghrib. Dan meski enggan, diskusi sore itu harus berakhir.  Yang kita yakini bersama adalah perjuangan untuk perdamaian sejati belum berakhir. Terimakasih kepada para peserta #ArumbaiBacarita yang telah berbagi cerita paling pahit tentang kehilangan harta, keluarga dan rasa aman.  Mereka yang berbagi sore itu,  berbagi tanpa dendam, berbagi tanpa ingin memusuhi, berbagi pengalaman untuk perdamaian.

Komentar Anda




Gunakan email kamu yang terdaftar di Gravatar untuk menampilkan avatarmu.

CommentLuv badge