rss
2

Love, Hate and Tolerance

dua anak yang sedang bercanda

Perasaan sayang dan benci adalah hal yang sangat manusiawi. Semua orang yang mengakui dirinya sebagai manusia pasti pernah memiliki kedua perasaan tersebut begitu juga dengan saya!!!

Selama hampir 25 tahun saya hidup di dunia ini sudah banyak pengalaman yang saya alami entah pahit ataupun manis. Menghabiskan masa kecil di daerah konflik dengan berbagai permasalahan keluarga dan lingkungan sekitar tidaklah mudah dalam proses pencarian jati diri. Marah, benci, kecewa, menangis dan kehilangan adalah perasaan yang sering saya alami ketika masa-masa ini. Namun cinta dan kasih yang tulus dari orang tua, saudara dan sahabat bercampur melebur memperkaya hati dan jiwa saya sebagai seorang pribadi. Tidak bisa dipungkiri juga pengalaman-pengalaman ini mengkontribusikan banyak hal dalam proses pembentukan jati diri seorang Nabilla Sabban.

Banyak hal yang sudah saya saksikan dalam hidup ini yang mungkin belum disaksikan oleh kebanyakan orang muda seumuran saya. Konflik benar-benar mengkontribusikan banyak hal untuk masa depan saya dalam artian negatif dan positif. Banyak hal negatif yang disebabkan oleh konflik yang saya dan keluarga rasakan, beberapa diantaranya adalah merasakan pengalaman menjadi pengungsi yang tinggal berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain karena rumah dan seluruh harta benda terbakar ketika terjadi penyerangan, kehilangan kesempatan menikmati masa-masa kecil sebgai seorang anak dengan bebas dan bahagia, kehilangan teman-teman sekolah yang dulu nya adalah sahabat namun karena konflik berubah menjadi musuh. Namun ada juga hal positif yang saya dapat dari konflik seperti ketegaran, ikhlas, sabar, tidak mudah menyerah dan terbiasa dengan gaya hidup yang sederhana dan apa adanya. Konflik juga lah yang membuat saya terus bermimpi untuk bisa menciptakan situasi yang lebih aman dan damai untuk anak cucu saya di kemudian hari. Konflik membuat saya mengerti apa arti kata maaf, berjiwa besar dan toleransi. Nilai-nilai ini mungkin terdengar sangat membosankan dan naive tapi inilah nilai-nilai yang di tinggalkan konflik pada diri saya.

Saya yakin saya tidak bisa mencapai apa yang saya capai sekarang jika saya tidak menjalani kehidupan di masa konflik Maluku pada tahun 1999-2005. Sejak saya pindah dari Ambon untuk kuliah di Jogja pada tahun 2005 silam, saya merasakan bagaimana nikmatnya hidup dalam kedamaian tanpa dihantui rasa takut, dan sejak itulah saya terus bermimpi untuk membuat Ambon kembali menjadi tempat yang aman dan damai seperti dulu sebelum terjadi konflik. Kerinduan akan kehidupan yang bebas dari rasa curiga, takut, benci dan keterbatasaan dalam kehidupan sosial ingin sekali bisa saya realisasikan di tanah Maluku. Meskipun saya sadari bahwa akan sangat sulit untuk merealisasikan mimpi-mimpi ini, tapi saya tidak pernah takut bermimpi, karena saya yakin dari mimpilah semua hal bisa dicapai dan mimpi jugalah yang membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Saya percaya mimpi yang dibarengi dengan kerja keras akan membuahkan hasil yang maksimal. Dan ini saya buktikan ketika saya berhasil mendapatkan salah satu beasiswa paling prestigious di dunia.

Foto Bersama

Pengalaman saya bekerja sebagai sosial worker dalam proses perdamaiaan berkelanjutan di Maluku adalah pengalaman yang sangat berharga dalam hidup saya. Saya tidak mungkin bisa mendapatkan pengalaman ini dari bangku sekolah ataupun pendidikan formal lainnya, karena berinteraksi langsung dengan masyarakat dan mengerti akar masalah yang mereka alami benar-benar sesuatu yang sangat menakjubkan bagi saya. Saya sadar bahwa banyak yang memandang pekerjaan yang saya pilih dengan sebelah mata dan menganggap pekerjaan saya ini tidak berprospek dan menghasilkan banyak uang seperti pekerjaan lainnya. Orang tua saya pun pada awalnya tidak setuju dengan pekerjaan yang saya pilih dan berharap saya bisa menjadi PNS ataupun karyawaan swasta. Tapi inilah yang saya inginkan karena ada kepuasan tersendiri dalam diri saya ketika saya bisa mengkontribusikan sesuatu untuk masa depan masyarakat Maluku meskipun dalam skala yang sangat kecil.

Salah satu program yang saya dan teman-teman lakukan untuk menciptakan perdamaian berkelanjutan di Maluku adalah melalui musik, karena musik sebagai universal language dipercaya bisa menyatukan berbagai macam orang dengan berbagai macam latar belakang dan kebiasaan. Disamping itu musik dan masyarakat Maluku memiliki ikatan yang sangat kuat. Anak-anak adalah target dari program ini, karena anak-anak adalah generasi kedepan Maluku yang harus diperkenalkan dengan nilai-nilai perdamaian sehingga dikemudian hari konflik yang serupa tidak akan terjadi lagi.

Banyak pelajaran yang saya dapatkan selama bekerja di lapangan dan berinteraksi dengan anak-anak ini, saya belajar bagaimana mencintai sesama dengan tulus tanpa ada rasa curiga dan takut disakiti, saya belajar untuk melihat kehidupan dengan lebih sederhana lagi. Ada kebahagian tersendiri ketika saya bersama mereka. Rasa sayang kepada mereka tumbuh dengan sendirinya dan membuat saya selalu rindu untuk kembali bertemu, bercanda dan membagi semua ilmu yang saya punya untuk mereka. Anak-anak ini membuat saya bangga dan selalu bahagia, tidak ada kata-kata yang pas yang bisa saya pilih untuk menggambarkan betapa pentingnya anak-anak ini dalam proses pendewasaan diri saya. Tidak ada rasa sedih ataupun malu pada diri mereka meskipun mereka berasal dari kampung dan jauh dari fasilitas-fasilitas mewah yang dinikmati oleh anak-anak lain di Negara ini. Mereka polos dan menerima semua yang di berikan tuhan dengan senyuman. Beberapa diantara mereka ada yang berasal dari keluarga menengah tapi kebanyakan berasal dari keluarga yang kurang mampu bahkan ada beberapa yang hampir putus sekolah karena tidak mampu mengakses biaya sekolah yang semakin mahal. Menariknya anak-anak ini tidak pernah mengeluh walapun kehidupan yang mereka alami bisa dibilang cukup keras untuk anak-anak semuran mereka. Rebana, tifa, gong dan suling adalah teman sehari-hari mereka dalam bermain, bahkan ada yang bisa menciptakan sair-sair indah ketika duduk diatas pohon sambil bermain suling :)

Ketika saya bertemu dengan anak-anak yang berasal dari provinsi-provinsi lain di Indonesia yang sudah lebih dahulu menikmati kehidupan yang jauh lebih baik dibandingkan anak-anak ini, namun masih sering mengeluh dan merasa kurang dengan apa yang mereka miliki selalu membuat saya sedih dan miris. Saya selalu berpikir bagaimana jika mereka tiba-tiba harus tinggal di kampung-kampung tanpa ada mal-mal dan segala kemudahan yang biasa mereka dapatkan. Apakah mungkin mereka bisa bertahan hidup seperti anak-anak binaan saya ini? Banyak dari kebanyakan anak-anak yang hidup dengan layak dan kecukupan itu suka membanggangkan harta benda milik orang tua mereka, bersikap sombong dan angkuh, menganggap remeh orang lain karena tidak memiliki pengalaman yang sophisticated seperti mereka padahal pada mereka-mereka inilah nasib bangsa di gantungkan jika pemikiran-pemikiran seperti itu tumbuh dan berakar dalam otak mereka tentulah perbedaan-perbedaan diantara orang Indonesia akan terus tertanamkan. Orang kota dan desa akan selalu menjadi pembeda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Semoga suatu saat semua anak Indonesia bisa merasakan pembangunan dengan baik, tidak ada lagi yang tertinggal dan di singkirkan. Tidak ada lagi anak Indonesia yang harus menderita karena konflik dan menjadi korban dari semua skenario orang-orang dewasa dan kepentingan mereka. Semoga semua anak Indonesia dari Sabang sampai Merauke bisa menikmati masa kecilnya dengan layak dan menjadi generasi penerus bangsa yang membawa perdamaian dan keharmonisan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia sehingga mereka bisa bebas mencintai tanpa ada rasa takut untuk disakiti. :)

Bersama anak-anak musik

 

by : Nabilla Sabban

Yang Koment (2)

  1. wow, ada ulasan menarik dari caca di U.K

    tak hanya sosoknya yang jadi inspirasi anak muda kota Ambon, tulisannya juga ternyata sangat kuat dan emosional.
    two thumbs up!

    beta suka kata ini
    ;

    tapi saya tidak pernah takut bermimpi, karena saya yakin dari mimpilah semua hal bisa dicapai dan mimpi jugalah yang membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin
    Rifky Santiago baru saja menulis..Coffe Badati dan Generasi Damai

  2. novi says:

    hei, saya org tual saat kerusuhn maluku dulu, saya masih kls dua. mungkin tdak sebarapa di banding ambon.

    tapi kita sama2 belajar satu hala. perang hanya meinggalkan jejak binasa dan luka.

    like this post, kakak.. salam kenal yah

    -novi
    novi baru saja menulis..blue cat

Komentar Anda




Gunakan email kamu yang terdaftar di Gravatar untuk menampilkan avatarmu.

CommentLuv badge